HOME SCHOOLING

PROPOSAL

POLA BELAJAR DALAM PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA PADA SISWA HOME SCHOOLING

 

       I.            PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit.  Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Fenomena sekarang ini, banyak siswa yang mendapatkan nilai matematika yang relatif tinggi, tetapi kurang mampu menerapkan hasil yang diperolehnya baik berupa ketrampilan, sikap serta pengetahuan dalam situasi tertentu terutama dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya apabila siswa menghadapi permasalahan yang penyelesainnya menggunakan materi pelajaran matematika yang diperolehnya, siswa masih banyak mengalami kesulitan bahkan belum dapat menyelesaikannya.

Kenyataan di lapangan siswa hanya menghafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut. Bila hal tersebut dibiarkan berlarut-larut dapat yang menyebabkan siswa menjadi malas belajar, sehingga hasil belajar yang berupa afektif, kognitif, dan psikomotorik tidak tercapai. Agar hasil belajar tersebut dapat tercapai maka pola belajar siswa khususnya pelajaran matematika harus diperbaiki.

Kebanyakan siswa menganggap belajar matematika itu susah. Banyaknya rumus dan langkah-langkah penyelesaian menjadikan matematika dipandang terlalu rumit.  Terlebih lagi bila mereka mengandalkan lembaga bimbingan belajar yang hanya mengajarkan cara-cara tepat dan praktis dalam menyelesaikan soal. Biasanya siswa-siswa berpikir praktis hanya mempelajari jawaban dari contoh-contoh soal, lalu menghafalkannya, tanpa memahami konsep-konsep yang seharusnya dipelajari dan dipahami.

Dalam pendidikan di sekolah, tidak semua siswa mengalami perkembangan optimal. Terdapat beberapa siswa yang mengalami kegagalan. Kegagalan ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang berupa afektif, kognitif, dan psikomotorikny. Penyebab kegagalan anak masuk sekolah menurut John Holt dalam How Children Fail adalah karena ketakutan, kebosanan dan kebingungan.

Rasa takut sebagai penyebab pertama mengandung arti anak takut dengan harapan-harapan orang tua yang sangat tinggi sehingga berada dalam tekanan. Akhirnya pendidikan dilakukan semata-mata untuk memenuhi harapan orang tua saja bukan untuk memenuhi kebutuhan anak. Penyebab kegagalan yang kedua adalah kebosanan karena kurikulum yang digunakan tidak relevan, tidak penting dan tidak menarik untuk anak.

Penyebab ketiga adalah karena kebingungan. Hal ini terjadi karena apa yang diterima dan dipahami anak di sekolah tidak relevan dan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya sehingga anak tidak mampu menerapkan apa yang didapat dan diperoleh dari sekolah. Oleh karena itu pendidikan formal memiliki keterbatasan, sekolah tidak mampu menjangkau anak-anak dengan kebutuhan spesifik dan khusus yang sesuai dengan keunikannya.

Kegagalan sekolah dalam membentuk manusia seutuhnya sesuai dengan potensi dan bakat, mendorong orang tua untuk kembali ikut serta dalam pendidikan dengan mengingat bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab dari orang tua. Kerjasama antar kedua pihak yaitu sekolah dan orang tua dapat diciptakan untuk saling menutupi keterbatasan dalam berbagai hal tersebut. Namun, beberapa keluarga memutuskan untuk lebih fokus pada pendidikan dengan cara mengambil sepenuhnya tanggung jawab mendidik anak sampai anak masuk ke perguruan tinggi.

Adapun alasan orang tua ketika memutuskan menyekolahkan anak di rumah tidak hanya karena keterbatasan akademik dalam pendidikan formal saja, mungkin juga adanya masalah lingkungan sosial di sekolah yang tidak selamanya positif, anak memerlukan perhatian khusus (anak cacat/abnormal), tidak punya biaya untuk sekolah, jarak sekolah dan rumah yang terlalu jauh dan lain sebagainya. Alasan-alasan ini kemudian mencetuskan adanya homeschooling.

  1. B.     Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah maka dapat difokuskan masalah

yang akan diteliti adalah:

  1. Bagaimana pola belajar siswa dalam memahami konsep matematika melalui pembelajaran outing pada komunitas homeschooling?
  2. Bagaimana pola belajar siswa dalam memahami konsep matematika melalui pembelajaran project class pada komunitas homeschooling?

 

  1. C.    Tujuan Penelitian
    1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pola belajar dalam pemahaman konsep matematika pada siswa homeshooling.

  1. Tujuan Khusus
    1. Mendiskripsikan pola belajar siswa dalam memahami konsep matematika melalui pembelajaran outing pada homeschooling.
    2. Mendiskripsikan pola belajar siswa dalam memahami konsep matematika melalui pembelajaran project class pada homeschooling.
  2. D.    Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada bidang pendidikan matematika.

  1. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi pendidikan formal dan guru dalam mengembangkan kompetensi pembelajaran guna peningkatan mutu pendidikan nasional.

  1. E.     Definisi Istilah
    1. Homeschooling

Homeschooling adalah model pendidikan dimana sebuah keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan anaknya dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikannya.

  1. Pola belajar

Pola belajar adalah sistem atau cara belajar. Pengertian belajar dari para ahli :

  • Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
  • Moh. Surya (1997) : “belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”.

Dari beberapa pengertian belajar tersebut diatas, kata kunci dari belajar adalah perubahan perilaku.

  1. Matematika

Menurut James dan James (1976) dalam kamus matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri.

Johnson dan Rising (1972) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi

  1. 4.      Pembelajaran Outing

Merupakan proses pembelajaran dimana peserta belajar di luar kelas, baik berupa kunjungan ke tempat terbuka maupun tertutup.

  1. Pembelajaran Project Class

Merupakan proses pembelajaran dimana peserta belajar melakukan percobaan-percobaan ilmiah dan ketrampilan lainnya. Dimana dengan melakukan project class peserta dapat mengembangkan kreatifitasnya.

 

    II.            LANDASAN TEORI

  1. A.    Kajian Teori
    1. Homeschooling
      1. Hakekat Homescooling

Homeschooling atau sekolah rumah atau pendidikan mandiri adalah sebuah proses pembelajaran yang dilakukan oleh sebuah keluarga dan berdasarkan pada nilai-nilai dalam keluarga tersebut yang lalu disesuaikan dengan pemilihan kurikulum dan metode oleh keluarga yang bersangkutan.

Keberadaan homeschooling telah diatur dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1), yang berisi sebagai berikut : Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Homeschooling menjadi bagiannya karena pendidikan dilakukan di rumah atau dalam keluarga. Kemudian pasal 27 ayat (2) mengatur tentang penilaian pendidikan informal yang mengatakan bahwa hasil pendidikan informal dihargai setara dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah melalui proses penyetaraan.

  1. Pengelolaan Homeschooling

1)      Jenis-jenis kegiatan homeschooling

a)      Homeschooling tunggal, dilaksanakan oleh orangtua dalam satu keluarga tanpa bergabung dengan yang lainnya.

b)      Homeschooling majemuk, dilaksanakan oleh dua atau lebih keluarga untuk kegiatan tertentu sementara kegiatan pokok tetap dilaksanakan oleh orangtua masingmasing.

c)      Komunitas homeschooling, Komunitas merupakan proses pembelajaran di mana peserta dikumpulkan di sebuah kelas untuk belajar sambil bersosialisasi dengan teman-temannya. Dalam komunitas, jadwal belajar peserta ditentukan oleh tutorial.

2)      Program Kegiatan Belajar Komunitas Homeschooling

Program kegiatan belajar komunitas homeschooling diatur berdasarkan 11 (sebelas) aspek, yaitu:

a)      Tujuan program belajar, tujuan umum  adalah mempersiapkan anak untuk terjun ke dunia nyata (real world) karena proses pembelajarannya berdasarkan kegiatan sehari-hari. Untuk tujuan khusus memberikan peluang bagi anak untuk belajar secara mandiri dan berkreativitas sesuai dengan potensi masing-masing anak (Sumardiono, 2007).

b)      Sumber belajar, orangtua dan para pengajar bertanggung jawab untuk mengajar sesuai keahlian masing-masing.

c)      Warga belajar, Jumlah yang efektif tidak lebih dari 20 orang warga belajar.

d)     Waktu belajar, lamanya waktu belajar tergantung pada tingkat kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh warga belajar

e)      Bahan belajar, dapat membeli kurikulum dan materi-materi ajar secara online melalui internet dan juga dapat menggunakan kurikulum Diknas sebagai acuan.

f)       Metode mengajar/belajar, diserahkan kepada orangtua atau menyewa guru-guru berkualitas.

g)      Alat-alat belajar, menggunakan sarana pembelajaran, baik barang cetakan, alat-alat audio, audio visual, internet.

h)      Dana belajar, sifatnya beragam.

i)        Tempat belajar, dilaksanakan di indoor maupun outdoor dengan suasana belajar yang kondusif .

j)        Evaluasi belajar, dilaksanakan dengan acara berdiskusi antara orangtua dan anak.

k)      Jadwal pelajaran, fleksibel tergantung kesepakatan antara orangtua dan anak.

  1. Pola Belajar

Pola belajar siswa adalah kebiasaan belajar yang teratur dimulai dari cara mengikuti pelajaran, belajar mandiri dirumah, belajar kelompok dan cara mempelajari buku pelajaran (Nana Sudjana, 2000:173).

  1. Cara mengikuti pelajaran

Ada beberapa cara bagaimana mengikuti pelajaran di sekolah:

1)      Baca dan pelajari bahan yang telah lalu dan bahan yang akan dipelajari selanjutnya.

2)      Periksa keperluan belajar sebelum anda berangkan kesekolah, datanglah lebih cepat agar mendapat tempat paling depan sehingga lebih mudah komunikasi dengan guru.

3)      Konsentrasikan pikiran anda kepada pembahasan guru  dan mendengarkan apa yang dijelaskannya.

4)      Catatlah pokok-pokok bahasan guru.

5)      Ajukan pertanyaan pada guru apabila ada bagian yang belum jelas  dan catat hal-hal yang penting dari jawabanya.

6)      Jika guru memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah, sebaiknya anda menghimpun diri dengan teman untuk membicarakan pokok-pokok tersebut.

 

 

  1. Cara belajar mandiri di rumah

Syarat utama belajar di rumah adalah adanya keteraturan belajar.

1)      Buka dan pelajari kembali catatan hasil belajar di sekolah.

2)      Pada akhir catatan, rumuskan pertanyaan-pertanyaan dari bahan tersebut.

3)      Setiap pertanyaan yang dibuat, tulis pula pokok jawabannya.

4)      Cara belajar berikutnya anda tinggal melatih pertanyaan tersebut sampai anda menguasai.

5)      Apabila masih ragu akan jawabanya, sebaiknya ajukan pertanyaan tersebut kepada guru pada saat pelajaran.

6)      Belajarlah pada saat tertentu yang paling memungkinkan bagi anda.

7)      Janganlah memforsir belajar terus menerus dalam waktu cukup lama.

  1. Cara belajar kelompok

1)      Pilih temen anda yang paling cocok untuk bergabung dalam satu kelompok yang terdiri dari 3-5 orang.

2)      Tentukan dan sepakati bersama kapan, di mana diskusi tersebut. Lakukan secara rutin minimal satu kali dalam seminggu.

3)      Rumuskan pertanyaan atau permasalahan yang akan dipecahkan bersama dan batasi ruang lingkupnya agar pembahasan tidak menyimpang.

4)      Bahas dan pecahkan setiap persoalan satu persatu sampai tuntas, dengan cara memberi kesempatan setiap anggota mengajukan pendapat.

5)      Kesimpulan hasil diskusi dicatat kepada anggota kelompok untuk dipelajari lebih lanjut dirumah masing-masing.

 

  1. Mempelajari buku teks

Buku adalah sumber ilmu, oleh karena itu membaca adalah keharusan bagi siswa. Siswa yang mempunyai pola belajar baik, ciri-cirinya antara lain:

1)      Segera mempelajari kembali bahan yang telah diterima.

2)      Membaca dengan teliti dan betul.

3)      Sering menyelesaikan soal latihan.

4)      Belajar dengan teratur dan disiplin.

5)      Memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

6)      Menggunakan berbagai sumber media.

  1. Pemahaman Konsep Matematika

Konsep-konsep pada kurikulum matematika dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu penanaman konsep dasar, pemahaman konsep, dan pembinaan ketrampilan.

  1. Penanaman konsep dasar (penanaman konsep), yaitu pembelajaran suatu konsep baru matematika, ketika siswa belum pernah mempelajari konsep tersebut. Kita dapat mengetahui konsep ini dari isi kurikulum, yang cirikan dengan kata mengenal. Pembelajaran penanaman konsep dasar merupakan jembatan yang harus dapat menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkrit dengan konsep baru matematika yang abstrak.
  2. Pemahaman konsep, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep, yang bertujuan agar siswa lebih memahami suatu konsep matematika. Pemahaman konsep terdiri dari atas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan dari penanaman konsep.
  3. Pembinaan ketrampilan, yaitu pembelajaran lanjutan dari penanaman konsep dan pemahaman konsep. Pembelajaran pembinaan ketrampilan bertujuan agar siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika. Seperti halnya pada pemahaman konsep, pembinaan ketrampilan juga teratas dua pengertian. Pertama, merupakan kelanjutan dari pembelajaran penanaman konsep dan pemahaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pembinaan ketrampilan dilakukan pada pertemuan yang berbeda, tapi masih merupakan lanjutan dari penanaman dan pemahaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman dan pemahaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, disemester atau kelas sebelumnya.
  4. B.     Kajian Pustaka

Sebuah penelitian akan mengacu pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini dapat digunakan sebagai titik tolak dalam melakukan penelitian dan untuk mengetahui relevansinya.

Yara, Philias Olatunde (2009) memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran matematika tergantung pada bagaimana pelajaran itu disampaikan, cara belajar aktif berinteraksi dengan pengalaman belajar yang disajikan kepadanya dan lingkungan dimana pembelajaran terjadi. Sikap guru terhadap pembelajaran matematika memainkan peran yang signifikan dalam membentuk sikap siswa terhadap pembelajaran matematika. Sikap positif siswa terhadap ilmu pengetahuan bisa ditingkatkan dengan antusiasme guru, kemudian akal dan perilaku siswa juga ikut membantu, pengetahuan materi guru yang baik membuat apa yang disampaikan menjadi cukup menarik. Sikap guru matematika dapat mencetak sikap siswa untuk mau belajar atau tidak. Maka dari itu, guru matematika harus secara psikologis siap untuk mengajar siswa.

Penelitian Suharsimi Arikunto (1990:71) bertitik tolak pada permasalahan: (1) Terhadap pengaruh model pembelajaran matematika yang digunakan guru terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan aritmatika. (2)Terdapat pengaruh pola belajar siswa terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan aritmatika. (3) Terdapat pengaruh interaksi secara bersama antara model pembelajaran dan pola belajar terhadap prestasi belajar siswa pada pokok bahasan aritmatika.

Kedua penelitian tersebut mempunyai kesamaan dengan penelitian yang akan peneliti adakan. Persamaan ini terletak pada pola belajar siswa dalam pembelajaran matematika. Sedangkan perbedaannya terletak pada kajian siswa homeschooling, sehingga secara tidak langsung kajian ini dapat menjawab tentang perhatian khusus bagi siswa homeschooling dalam pola pembelajaranya.

 

 III.            METODE PENELITIAN

  1. A.       Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Nasution (Sugiyono, 2008: 205) penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya.

Dalam penelitian ini menggunakan studi kasus. Studi kasus merupakan penyelidikan mendalam mengenai suatu unit sosial sedemikian rupa sehingga menghasilkan gambar yang terorganisasikan dengan baik dan lengkap mengenai unit sosial tersebut (Azwar, 2005: 8). Dalam penelitian ini yang diamati adalah pola belajar, yaitu sistem atau cara belajar. Dengan digunakan penelitian kualitatif, maka data yang didapatkan akan lebih lengkap, lebih mendalam dan bermaka sehingga tujuan dari penelitian ini akan tercapai.

 

  1. B.     Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Home Schooling Kak Seto (HSKS) yang beralamat di jalan Cocak I No. 4 Sidorejo Mangkubumen, Banjarsari Surakarta.

Waktu penelitian ini dimulai bulan Februari 2011 sampai Juni 2011, secara terperinci sebagai berikut:

  1. Tahap perencanaan meliputi pengajuan judul, pembuatan proposal, pembuatan pedoman observasi, permohonan ijin riset serta survey di sekolah yang direncanakan hingga tempat penelitian tang dilaksanakan pada minggu pertama bulan februari 2011 sampai minggu kedua bulan juni 2011.
  2. Tahap pelaksanaan yaitu kegiatan-kegiatan yang berlangsung di sekolah yang berupa pengambilan data yang dilaksanakan pada minggu pertama sampai minggu pertama bulan Mei 2011.
  3. Tahap analisis data, yaitu proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil penelitian, tahap ini dilaksanakan pada minggu kedua bulan Mei 2011
  4. Tahap pelaporan, yang dilaksanakan minggu kedua bulan Juni 2011.
  5. C.    Data, Sumber Data, dan Nara Sumber

Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian yaitu tentang pola belajar memahami konsep matematika siswa di Home Schooling Kak Seto Surakarta. Data primer ini diambil dengan mengenakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung pada subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh peneliti dari subjek penelitiannya. Dalam penelitian ini data sekundernya adalah berupa dokumen-dokumen atau data laporan yang telah tersedia yang mendukung dalam penelitian (Sugiyono, 2008: 308-309).

Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen. Data-data dan tindakan orang-orang yang diamati atau di wawancarai merupakan sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melaui perekaman dan pengambilan foto. Pencatatan sumber utama melalui wawancara atau pengamatan merupakan hasil gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya. Data dalam penelitian ini diperoleh dari sumber data yaitu siswa, guru yang mengajar, dan kepala sekolah.

Informasi dalam penelitian ini dapat diperoleh dari berbagai kejadian. Peneliti dapat melakukan observasi langsung di lapangan dalam proses belajar mengajar. Objek penelitian ini adalah pola belajar pemahaman konsep matematika pada siswa di Home Schooling Kak Seto.

  1. D.    Metode Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi.

  1. Wawancara

Wawancara mempunyai definisi suatu proses komunikasi interaksional antara dua pihak (Rizky, 2009). Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam yaitu wawancara yang dilakukan dengan cara yang tidak terstruktur. Wawancara dilakukan berupa pertanyaan yang mengarah pada pendalaman informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak secara formal tersetruktur, guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat (Afriani, 2009).

  1. Observasi

Metode observasi adalah suatu usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstandar (Arikunto, 2002: 197). Dalam hal ini observasi yang dilakukan adalah turut mengawasi berlangsungnya proses belajar mengajar di Home Schooling Kak Seto Surakarta. Pada waktu observasi dilakukan, penelitian mengamati proses pembelajaran dan mengumpulkan data mengenai segala sesuatu yang terjadi pada proses pembelajaran tersebut baik yang terjadi pada guru, siswa maupun situasi kelas.

Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan peneliti berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono, 2008: 203).

  1. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pendukung dalam observasi dan wawancara. Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data melalui pengumpulan dokumen yang diperlukan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti untuk ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu masalah (Iskandar, 2009: 135). Teknik dokumentasi digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data atau informasi dari berbagai sumber tertulis atau dari dokumen yang ada pada informan.

  1. E.     Kehadiran Peneliti

Peneliti bertindak sebagai instrument dan sebagai siswa. Peneliti sebagai instrumen tidak terlibat langsung dalam penelitian dan hanya sebagai pengamat. Peneliti sebagai siswa yaitu terlibat langsung dengan kegiatan yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian ( Sugiyono, 2008: 204).

  1. F.     Teknik Analisis Data

Teknik analisis data kualitatif bersamaan dengan pengumpulan data tekniknya menggunakan first order understanding (meminta peneliti untuk menanyakan kepada pihak yang diteliti guna mendapatkan penjelasan yang benar) dan second order understanding (peneliti memberikan penjelasan dan interpretasi terhadap pihak yang diteliti sampai memperoleh suatu makna yang baru dan benar) (Subadi, 2004: 70).

Menurut Miles and Huberman (Iskandar, 2009: 138) mengemukakan aktivitas dalam analisis data berlangsung mulai dari awal penelitian sampai penelitian berakhir yang dituangkan dalam laporan penelitian dilakukan secara simultan dan terus menerus.

Aktifitas dalam analisis data, yaitu pengumpulan data, penyajian data, reduksi data, dan kesimpulan-kesimpulan penarikan/verivikasi.

Langkah-langkah analisis data di tunjukkan gambar 1 berikut.

 

Gambar 1.1 Komponen dalam analisis data

 

Langkah-langkah analisis data model interaktif di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pengumpulan data

Data-data yang diperoleh dilapangam dicatat atau direkam dalam bentuk naratif, yaitu uraian data yang diperoleh dari lapangan apa adanya tanpa adanya komentar peneliti yang berbentuk catatan kecil. Dari catatan deskriptif ini, kemudian dibuat catatan refleksi yaitu catatan yang berisi komentar, pendapat atau penafsiran peneliti/ fenomena yang ditemui dilapangan.

  1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Reduksi data dilakukan terus menerus selama penelitian dilaksanakan. Reduksi data merupakan wujud analisis yang menajamkan, menglarifikasikan, mengarahkan, membuang data yang tidak berkaitan dengan pokok persoalan. Selanjutnya dibuat ringkasan, pengkodean, penelusuran tema-tema, membuat catatan kecil yang dirasakan penting pada kejadian seketika yang dipandang penting berkaitan dengan pokok persoalan.

  1. Penyajian data

Pada tahapan ini disajikan data hasil temuan di lapangan dalam bentuk teks deskriptif naratif

  1. Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan dan verifikasi merupakan upaya memaknai data yang disajikan dengan mencermati pola-pola keteraturan, penjelasan, konfigurasi, dan hubungan sebab akibat. Dalam melakukan penarikan kesimpulan dan verivikasi selalu dilakukan peninjauan terhadap penyajian data dan catatan di lapangan melalui diskusi tim peneliti, Miles and Huberman (Iskandar, 2009:138).

  1. G.    Keabsahan Data

Data dalam penelitian ini disahkan melaui teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain (Moleong, 2006: 256). Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik dan sumber data.

Triangulasi sumber data diterapkan dengan mengambil data dari beberapa sumber, dalam pnelitian ini sumber datanya adalah siswa, guru, kepala sekolah dan masyarakat sekitar.

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi ( Sugiyono, 2008: 209)

  1. H.    Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dalam penelitian ini menggunakan tiga langkah yaitu studi persiapan, studi eksplorasi umum, dan studi eksplorasi khusus. Studi persiapan dilakukan untuk menentukan tempat dan objek serta fokus penelitian. Hal ini didasarkan pada:

  1. Isu-isu umum homschooling
  2. Kajian pustaka yang relevan, dan
  3. Orientasi homeschooling melalui studi pendahuluan, penetapan tempat dan objek, serta fokus penelitian.

Studi eksplorasi umum, dilakukan untuk penjagaan umum berkaitan dengan fokus penelitian melalui wawancara maupun observasi secara global. Studi eksplorasi khusus dilakukan untuk pengumpulan data dan analisis data, pengecekan hasil penelitian dan penulisan laporan penelitian.

 

  1.  IV.            DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Samsul. 2010. “Pembelajaran Matematika”, (http://s4ms1212.blogspot.com/2010/01/pembelajaran-matematika.html, diakses tanggal 1 April 2010).

Ari Utami, Retno. 2004. “Model Pembelajaran Aritmatika melalui Metode Kooperatif ditinjau dari Pola Belajar Siswa”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Elsyajja. 2010. “ Homeschooling sebagai Alternatif Mengatasi Keterbatasan Pendidikan Formal”, (http://elsyajja.wordpress.com, diakses tanggal 4 Mei 2011).

Nurul Khusna, Novia. 2011. “Perilaku Belajar Matematika Siswa Sekolah Alam (Studi Situs Sekolah Alam Ar Ridho Semarang)” . Skripsi. Surakarta: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Udin. 2010. “Home Schooling Kak Seto Semarang”, (http://homeschoolingkaksetosemarang.com/page/28195/kurikulum.html, diakses tanggal 4 Mei 2011).

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: